Jumat, 12 Agustus 2011

MATERI STRATEGI BELAJAR MENGAJAR


DIKTAT SBM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM IBRAHIMY BANYUWANGI
(STAI ” IBRAHIMY “)






















 



 

OLEH : MOH. YANI, S.Ag, MM, M.Pd.I

( DOSEN STAI “ IBRAHIMY “ BANYUWANGI )


STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

A.      Pengertian Strategi Belajar Mengajar


1. Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan / ilmu dan seni menggunakan semua SDM untuk melksanakan kebijakan tertentu / Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
2. Bila dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola – pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

3. Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar antara lain meliputi
1.       Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
a.       Spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku yang bagaimana yang diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan?
b.       Apa yang dijadikan sebagai sasaran dari KBM ?
c.        Sasaran yang dituju harus jelas dan terarah serta konkret
d.       Rumusan tujuan dalam KBM haruslah tujuan yang operasional

2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
Contoh : :  Satu masalah yang dipelajari oleh dua orang dengan pendekatan yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan – kesimpulan yang berbeda.
Norma – norma sosial seperti baik, benar, adil akan melahirkan kesimpulan yang berbeda dan bahkan mungkin bertentangan bila dalam cara pendekatannya menggunakan berbagai disiplin ilmu.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan tehnik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
Metode atau teknik penyajian untuk memotivasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah , berbeda dengan cara atau metode supaya anak didik terdorong dan mampu berfikir bebas dan cukup keberanian untuk mengemukakan pendapatnya.
Dengan sasaran yang berbeda guru hendaknya jangan menggunakan teknik penyajian yang sama. Bila beberapa tujuan ingin diperoleh maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan tentang penggunaan berbagai metode/ kombinasi berbagai metode.
4. Menetapkan norma – norma dan batas minimal keberhasilan atau kritria serta standar                       keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem intruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.

Sistem penilaian dalam KBM merupakan salah satu strategi yang tidak dipisahkan dengan strategi dasar yang lain.
1.       Apa yang harus dinilai ?
2.       Bagaimana penilaian harus dilakukan termasuk kemampuan yang harus dimiliki oleh guru ?

B.      Klasifikasi Strategi Belajar Mengajar

Menurut Tabrani Rusyan, Klasifikasi Strategi Belajar Mengajar ada empat sbb :
1.       Konsrep dasar Strategi belajar mengajar, meliputi :
a.       Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku
b.       Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar
c.        Memilih prosedur, metode dan teknik belajar mengajar
d.       Menerpkan norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar.

2.       Sasaran Kegiatan belajar
Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang operasional dan yang konkret, yaitu

Tujuan intruksional umum ( TIU ) / Standart kompetensi ( SK )  dan tujun intruksional khusus ( TIK ) /
Kompetensi dasar ( KD ), Tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yang bersifat universal.
Pada tingkat sasaran dan tujuan yang bersifat universal, manusia yang diidamkan harus memiliki kualifikasi sbb :
a.       Pengembangan bakat yang optimal
b.       Hubungan antar manusia
c.        Efisiensi ekonomi
d.       Tanggung jawab sebagai warga negara.

3.       Belajar mengajar sebagai sistem
Belajar mengajar sebagai suatu sisten intruksional mengandung poengertian Sebagai sepereangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan.
        Sedang sebagai sutu sistem belajar mengajar meliputi Suatu komponen antara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi.
        Agar tujuan berhasil maka seluruh komponen yang ada harus di organisasikan sehingga antar sesama sesama komponen terjadi kerja sama. Karena itu guru tidak boleh hanya memperhatikan komponen – kpm[ponen tertentu saja misalnya,                                        

metode, bahan dan evaluasi saja, tapi harus mempertimbangkan komponen – kpmponen secara keseluruhan.
        Berbagai persoalan yang biasa dihadapi oleh guru antara lain adalah   :
a. Tujuan – tujuan apa yang mau dicapai
b. Materi pelajaran apa yang diperlukan
c.  Metode, alat mana yang harus dipakai
d. Prosedur apa yang akan diotempuh untuk melakukan evaluasi.

Secara khusus dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, perantara sekolah dngan masyarakat, administrator dll. Untuk itu guru perlu memahami dengan segala aspek pribadi anak didik sepert :
1. Kecerdasan dan bakat khusus
2. Prestasi sejak permulaan sekolah
3. Perkembangan jasmani dan kesehatannya
4. kecendrungan emosi dan karakternya
5. Sikap dan minat belajar
6. Cita – cita
7. kebiasaan belajar dan bekerja
8. hobi dan penggunaan waktu senggang
9. Hubungan sosial di sekolah dan di rumah
10.  Latar belakang keluarga
11.  Lingkungan tempat tinggal
12.    Sifat – sifat khusus dan kesulitan anak didik.

4.       Hakikat proses belajar
Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan.

Mahsudnya adalah tujuan kegiatan
adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan ( Kognitif ), ketrampilan ( Psikomotorik ) maupun sikap ( Afektif ).

5.       Entering behavior siswa
Entering behavior siswa adalah karakteristik perilaku anak didik saat mereka mau masuk sekolah dan mulai
dengan kegiatan belajar mengajar dilangsungkan, tingkat dan jenis karakteristik perilaku anak didik yang telah dimilikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Menurut ABIN SYAMSUDIN  Entering behavior siswa dapat di identifikasikan dengan cara
a. Cara tradisional, yaitu guru mulai dengan perntanyaan mengenai bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru.
b. Cara Inovatif, yaitu guru tertentu diberbagai lembaga pendidikan yang memiliki / mampu mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar dengan memenuhi syarat, mengadakan pretes sebelum mereka mulai mengikuti program belajar mengajar.

6. Pola – pola belajar siswa
ROBERT M. GAGNE membedakan pola – pola belajar siswa menjadi 8 type, yaitu :

1. SIGNAL LEARNING
Signal learning yaitu proses penguasaan pola – pola dasar perilaku yang bersifat involuntary ( tidak disengaja dan tidak disadari tujuannya.
Contoh : Aba – aba “siap “ merupakan suatu signal atau isyarat untuk mengambil sikap tertentu.

2. STIMILUS – RENSPONS LEARNING
Type ini digolongkan kedalam Instrumental conditioning yaitu belajar dengan Trial and Error  ( Mencoba – coba ) termasuk proses belajar bahasa pada anak – anak.
Kondisi yang dperlukan untuk berlangsungnya type belajar ini adalah faktor inforcement. Waktu antara stimulus pertama dqan berikutnya amat penting. Makin singkat S – R denga S – R berikutnya, semakin kuat Reinforcementnya.
Contoh : Burung Beo dpat diajar memberi salam dengan mengangkat kaki, bila kita katakan “kasih tangan atau salam”. Ucapan kasih tangan merupakan stimulus yang menimbulkan respons memberi salama burung itu.
Jadi jelaslah bahwa kemampuan itu tidak diperoleh secara tiba – tiba, akan tetapi melalui latihan – latihan. Respon dapat diatur dan dikuasai, respons bersifat spesifik, tidak umum dan kabur.

3. CHAINING
Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan      S – R yang satu dengan yang lain.
Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya type beljar ini antara lain secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlahsatua S – R , baik psikomotorik maupun verbal.

4.       VERBAL ASSOCIATION
Verbal association bentuk setaraf dengan type belajar chaining yaitu belajar menghubungkan satua ikatan S – R yang satu dengan yang lain.
Contoh : bentuk sederhana bila anak diperlihatkan suatu bentuk geometris dan sianak dapat mengatakan bujur sangkar atau itu bola saya bila melihat bola.
                       
5.                                                             DISCRIMINATION LEARNING
Discrimination learning yaitu belajar mengadakan pembeda. Dalam type ini anak didik mengadakan seleksi dan pengujian diantara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola – pola respon yang diaggap paling sesuai. Anak didik dalam pola ini sudah mempunyai kemahiran melakukan chaining, association dan pengalaman ( pola S – R )
Contoh : Anak dapat mengenal berbagai merek mobil besrta namanya, walaupun mobil itu banyak bersamaan.

6. CONCEPT LEARNING
Concept learning adalah belajar poengertian. Dengan berdasarkan kesamaan ciri – ciri dari sekumpulan stimulus dan obyek – obyeknya, ia membentuk suatu pengertian/ konsep, kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.
Contoh :  Ia dapat menggolongkan dunia skitarnya menurut konsep, misalnya menurut warna , bentuk,jumlah. Ia dapat menggolongkan manusia menurut hubungankeluarga seperti: bapak, ibu, paman, saudara.

7. RULE LEARNING ( BELAJAR ATURAN )
Rule learning adalah belajar membuat generalisasi, hukum dan kaidah.
Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah – kaidah logika formal ( induktif, kondukti, analisis, sintesis, asosiasi, diferiensi, komparasi dan kausalitas ) sehingga anak didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang senagai  “ Rule “.
Belajar aturan adalah Type belajar yang banyak terdapat dalam pelajaran sekolah. Aturan ini terdapat dalam tiap mata pelajaran, misalnya, benda yang dipanaskan memuai, angin berhembus dari daerah yang maksimum ke daerah minimum, (a+b) (a-b) = a2 – b2, untuk menjamin keselamatan negara harus diadakan pertahanan yang ampuh
    Ada dua cara dalam metode ini :
1. Anak menemukan sendiri aturan – aturan itu
2. Anak  diberitahukan atuaran – aturan yang dipelajari dengan memberikan contoh – contoh, dan cara ini lebih efektif.
Mengenal aturan tanpa memahaminya akan merupakan “ verbal chain “ saja dan ini hanya menunjukkan cara belajar yang salah.
    Kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar seperti ini adalah :
a. Kepada anak didik diberitahukan bentuk performance yang diharapkan, kalau yang bersangkutan menjalani proses belajar
b. Anak didik diberikan sejumlah perntanyaan yang merangsang, mengingatkannya ( recall ) terhadap konsep yang dipelajarinya dan dimilikinya untuk mengungkapkan perbendaharaan pengetahuannya.
c.  Anak didik diberitahukan kata kunci yang menyarankan anak didik ke arah pembentukan kaidah tertentu yang diharapkan.
d. Diberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengekspresikan dan menyatakan kaidah tersebut dengan kata – katanya sendiri.
e.  Anak didk diberikan kesempatan untuk menyusun rule dalam bentuk statement formal.

8. PROBLEM SOLVING ( PEMECAHAN MASALAH )
Problem solving adalah belajar memecahkan masalah.            Langkah – langkah pemecahan masalah adalah sbb :
a. Merumuskan dan megaskan masalah
b. Mencari fakta pendukung dan merumuskan hipotesis.
c.  Mengevaluasi alternatif pemecahan yang di kembangkan.
d. Mengadakan pengujian dan
    verifikasi.

7. Memilih sistem belajar mengajar.
Para ahli teori belajar mengembangkan berbagai cara pendekatan atau sistem pengajaran atau proses belajar mengajar antara lain :
a. ENQUIRY – DISCOVERY LEARNING
Adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem belajar ini guru menyajikan bahan prngajaran tidak dalam bentuk final, tetapi anak diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Prosedurnya sebagai berikut :
1. Simulation, Guru bertanya dengan mengajukan persoalan/ anak disuruh membaca, mendengarkan uraian yang memuat permasalahan.
2. Problem statement.Anak didik diberi kesempatan untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan. Permasalahan yang dipilih harus dirimuskan dalam bentuk pentanyaan/hipotesis yakni penyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
3. Data Collection. Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis anak diberi kesempatan untuk mengumpulkan           ( collection ) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber, melakukanuji cobasendiri dan sebagainya.
4. Data processing. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingakatr kepercayaan tertentu.
5. Verification/pembuktian. Berdasarkan hasil pengolaan dan tafsiran atau informasi yang ada, penyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan, di cek, apakah terjawab/tidak, apakah terbukti/tidak.
6. Generalization. Berdasarkan hasil verifikasi, anak didik belajar menarik kesimpulan/ generalisasi tertentu.

b. EKPSITORY LEARNING.
Sistem ini guru menyajikan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, siematis dan lengkap, sehingga anak didik tinggal menyimak dan mencernanya secara tertib dan teratur. Prosedurnya sebagai berikut :
1. Preparasi. Guru mempersiapkan (bahan) selengkapnya secara sistematis dan rapi
2. Appersepsi. Guru bertanya atau memberikan uaraian singkat untuk mengarahkan perhatian anak didik kepada materi yang akan diajarkan.
3. Presentasi. Guru menyajikan bahan dengan cara memberikan ceramah/menyuruh anak didik membacabahan yang telah dipersiapkan
4. Resitasi. Guru bertanya dan anak didik menjawab sesuai dengan bahan yang dipelajari / anak didik disuruh menyatakan   kembali dengan kata – katanya sendiri tentang pokok masalah yang telah dipelajari secara lisan maupun tulisan.

c.  MASTERY LEARNING
Dalam sistem balajar ini guru harus mengusahakan upaya – upaya yang dapat mengantarkan kegiatan anak didik ke arah tercapainya penguasaan penuh terhadap bahan pelajaran yang diberikan. Dalam hal ini ada dua buah kegiatan antara lain :
1. Kegiatan Pengayaan, yaitu kegiatan yang diberikan siswa –siswa kelompok cepat sehingga siswa tersebut menjadi lebih kaya pengetahuan dan ketrampilan /lebih mendalami bahan pelajaran yang dipelajari.
2. Kegiatan Perbaikan, yakni kegiatan yang diberikan kepada sisw – siswa yang belum menguasai bahan pelajaran yang diberikan oleh guru dengan mahsud mempertinggi tingkat penguasaan terhadap bahan pelajaran tersebut.
Kegiatan pengayaan dibagi menjadi  dua macam :
1. Kegiatan pengayaan yang berhubungan dengan topik madul pokok.
2. Kegiatan pengayaan yang tidak berhubungan dengan topik modul pokok.
Langkah – langkahnya :
a. Memberikan kegiatan yang tidak berhubungan dengan topik modul tetapi masih dalam ruang lingkup bidang study yang sama.
b. Memberikan kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan topik modul dan juga tidak dalam bidang study yang sama.
Sedang kegiatan perbaikan dapat dilakukan dengan jalan :
1. Mengganti metode  mengajar dengan  metode mengajar yang lain
2.    Menyuruh membaca buku – buku sumber yang mengandung konsep yang  sama.
3.    Peer tutor ( tutor sebaya ).
Dalam pelaksanaan program perbaikan  kadangkala guru disibukkan dengan berbagai kegiatan di kelas karena banyaknya siswa yang gagal menguasai bahan pelajaran. Akan tetapi karena banyanya siswa yang di tangani, maka guru dapat meminta bantuan kepada siswa yang semestinya ikut pengayaan untuk menjadi tutoring, manfaatnya :
1. Ada kalanya hasilnya lebih baik bagi anak yang enggan/ takut kepada gurunya.
2. Bagi tutor, pekerjaan tutoring akan mempunyai akibat memperkuat konsep yang sedang dibahas.
3. Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban tugas dan melatih kesabaran.
4. mempererat hubungan antar sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.

e.  HUMANISTIK EDUCATION
Karakteristik pokok dalam metode ini antara lain bahwa guru hendaknya jangan membuat jarak terlalu tajam dengan siswanya. Ia harus menempatkan diri berdampingan dengan siswa sebagai siswa senior yang selalu siap menjadi sumber/ konsultan berbicara. Taraf akhir dari proses ini adalah Self actualization.

f.  PENGORGANISASIAN KELOMPOK BELAJAR.
Pengorganisasian kelompok belajar anak didik disarankan :
1. Kelompok belajar tunggal ( N 1 ), metode yang sesuai adalah tutorial, pengajaran berprogram, studi individual ( independent study)
2. Kelompok kecil ( N 2 – 20 ) metode belajarnya : Diskusi, seminar, klasikal (class room teaching) dengan teknik bervariasi sesuai dengan kempuan guru.
3. Kelompok belajar besar ( N Lebih 40 orang ), metode belajarnya : Kuliah/ceramah


HAKIKAT, CIRI  DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR

A.    Hakikat Belajar Mengajar
      Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subyek dan obyek dari kegiatan belajar pengajaran. Karena itu inti proses pengajaran adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik dituntut dari segi fisik dan segi kejiwaan. Fisik, fikiran dan mental haryslah aktif untuk mencapasi tujuan pembelajaran. Inilah yang dimahsud dengan belajar.                                          Jadi pada hakikatnya belajar adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Perubahan fisik, mabuk, gila tidak termasuk dalam proses belajar.
Kegiatan mengajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya sejumlah anak didik. Mengajar pasti secara mutlak memerlukan keterliban individu anak didik, bila tidak ada anak didik/obyek didik , siapa yang diajar.  Sedang belajar tidak selamanya memerlukan kehadliran guru.
Guru mengajar dan anak didik yang mengajar adalah dwi tunggal dalam perpisahan raga jiwa bersatu antara guru dan anak didik.
Sama halnya dengan belajar, mengajarpun pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya, mengajar adalah proses memberikan bimbingan /bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.
Akhirnya, bila hakikat belajar adalah perubahan, maka hakikat mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru.

B.     Ciri – ciri Belajar Mengajar.
1.      Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu
2.      Ada suatu prosedur (jalannya interaksi ) yang direncanakan. Didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar dapat mencapai tujuan secara optimal maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur/ langkah –langkah sistematik dan relevan.
3.      Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Materi harus didesain dan disiapkan sebelum berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
4.      Ditandai dengan aktivitas anak didik. Aktivitas anak didik dalam hal ini, baik secara fisik maupun mental.
5.      Dalam kegiatan belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing. Guru sebagai desainer akan memimpin terjadinya interaksi.
6.      Membutuhkan disiplin, yakni sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun anak didik secara sadar
7.      Ada batas waktu. Setiap tujuan diberi wktu tertentu, kapan tujuan itu harus tercapai.
8.      Evaluasi, dilakukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah ditentukan.

C.    Komponen – komponen Belajar Mengajar
Sebagai suatu sistem kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen sebagai berikut :
1.      Tujuan.
Tujuan adalah suatu cita – cita yang ingin di capai dari pelaksanaan suatu kegiatan.
Dalam kegiatan belajar mengajar tujuan adalah suatu cita – cita yang ingin dicapai dalam kegiatannya. Kegiatan belajar mengajar tidak bisa dibawa sesuka hati kecuali untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita – cita yang bernilai normatif, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik.
Tujuan adalah komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi.
2.      Bahan Pelajaran.
Bahan Pelajaran adalah Subtansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar / Komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan adalah inti dalam proses velajar mengajar yang akan disampaikan kepada anak didik. Ada dua  persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran , yakni :
1.Penguasaan bahan pelajaran pokok
Yaitu bahan pelajaran yang menyangkut bidang study yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya (Disiplin keilmuannya).
2.Bahan pelajaran penunjang.
Yaitu bahan pelajaran yamg dapat membuka wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok.

3.      Kegiatan Belajar Mengajar.
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.                                               Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi anak didiklah yang aktif bukan guru. Guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual anak didik. Seperti pada aspek biologis, intelektual dan psikologis,
tujuannya agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap anak didik secara individual. Pemahaman ketiaga aspek tersebut akan merapatkan hubungan antara guru dan anak didik, sehingga guru mudah pula untuk melakukan pendekatan mastery learning dalam mengajar.
Mastery learning yaitu salah satu strategi belajar mengajar pendekatan individual/ kegiatan yang meliputi dua kegiatan yaitu program perbaikan dan program pengayaan.

4.      Metode
Adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Ada lima macam faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar, yaitu :
a. Tujuan yang berbagai – bagai jenis dan fungsinya.
b.Anak didik yang berbagai – bagai tingkat kematangannya.
c. Situasi yang bermacam – macam keadaannya
d.                  Fasilitas yang bermacam – macam kualitas dan kuantitasnya.
e. Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda – beda.
5.      Alat
Adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Fungsinya alat sebagai perlengkapan, sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan.
Alat dapat dibagi menjadi dua macam :
1.Alat, yaitu berupa suruhan, perintah, larangan dan sebagainya.
2.Alat bantu , yaitu berupa globe, papan tulis, gambar, diagram, slide, video dan sebagainya.
Ahli lain membagi alat pendidikan dan pengajaran menjadi dua pula, yaitu :
1.Alat material, seperti alat bantu audiovisual
Aliran realisme berasumsi bahwa belajar yang sempurna hanya dapat  tercapai dengan menggunakan bahan – bahan audovisual karena mendekati raelitas.
Sifat audio visual sebagai berikut :
a.        Kemampuan untuk meningkatkan persepsi
b.       Kemampuan untuk meningkatkan pengertian
c.        Kemampuan untuk meningkatkan transfer belajar
d.       Kemampuan untuk memberikan penguatan             ( Reinforcement )
e.       Kemampuan untuk meningkatkan retensi (ingatan )
f.        
2.      Alat nonmaterial. Seperti tugas, perintah, larangan dsb.

6.      Sumber Belajar.
Adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang/ Bahan – bahan / materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal – hal baru bagi si pelajar.
Yang termasuk dalam sumber belajar, antara lain :
a.       Manusia
b.      Buku/perpustakaan
c.       Bahan/ material
d.      Lingkungan
e.       Aktifitas
f.       Alat pelajaran/ Media pendidikan.
7.      Evaluasi
Adalah suatu tindakan/ suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu / Kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang bersangkutan dengan kapbilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.
Sedangkan Evaluasi pendidikan  sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.
Tujuan Evaluasi adalah sebagai berikut :
1.      Tujuan Umum :
a.       Mengumpulkan data – data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam memncapai tujuan yang diharapkan
b.      Memungkinkan pendidik menilai aktivitas/pengalaman yang didapat
c.       Menilai metode mengajar yang dipergunakan.
2.      Tujuan Khusus :
a.       Merangsang kegiatan siswa
b.      Menemukan sebab – sebab kemajuan atau kegagalan
c.       Memberikan bimbingan yang sedsuai dengan kebutuhan , perkembangan siswa
d.      Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan sisw yang diperlukan orang tua/ lembaga pendidikan
e.       Untuk memperbaiki mutu pelajaran/ cara belajar dan metode mengajar.
3.Fungsi Evaluasi :
a.       Untuk memberikan umpan balik ( feed back) kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar, serta mengadakan perbaikan program bagi murid
b.      Untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan  atau hasil belajar dari setiap murid
c.       Untuk menentukan murid dalam situasi belajar mengajar yang tepat.
d.      Untuk mengenal latar belakang  murid yang mengalami kesulitan – kesulitan belajar.

BERBAGAI PENDEKATAN BELAJAR MENGAJAR
                 
A.    Pendekatan Individual
Pendekatan yang dilakukan dengan melihat karakteristik masing – masing anak didik yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik yang lainnya.
Karakteristik yang berbeda itu antara lain : Cara mengemukakan pendapat, cara berpakaian, daya serap, tingkat kecerdasan dan lain sebagainya. Pendekatan ini bertujuan untuk menuntaskan strategi belajar tuntas atau mastery learning.
      Beberapa kasus yang dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan Individual, misalnya : Untuk menghentikan anak didik yang suka berbicara, caranya dengan memisahkan / memindahkan salah satu dari anak didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Anak didik yang suka bicara ditempatkan pada kelompok anak didik yang pendiam.
      Sedangkan dalam pengajaran, pendekatan Individual sanagt penting dalam pengelolaan kelas, pemilihan metode.

B.     Pendekatan Kelompok.
Pendekatan kelompok digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik, hal ini disadari karena anak didik merupakan sejenis homo socius, yakni makhluq yang berkecendrunagan untuk hidup bertsama.
Pendekatan kelompok adalah pendekatan yang digunakan bagi anak didik yang mempunyai kekurangan dan kelebihan dalam pengetahuannya. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mereka mau membantu mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya bagi yang mempunyaikekurangan dengan rela hati mau belajar tanpa ada rasa malu dan minder.
Dalam memggunakan pendekatan kelompok guru harus mempertimbangkan bahhwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, fasilitas belajar pendukung, metode yang akan dipakai sudah dikuasai dan bahan yang akan diberikan kepada anak didik.

C.    Pendekatan Bervariasi.
Pendekatan bervariasi digunakan untuk menghadapi anak didik yang banyak mempunyai masalah / masalah yang bervariasi / Pendekatan yang bertitik tolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak dalam belajar bermacam – macam.
Misalnya,anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dasn menghendaki pendekatan yang berbeda – beda.

D.    Pendekatan Edukatif.
Pendekatan Edukatif adalah pendekatan yang dilaksanakan bahwa setiap tindakan , sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, susila, moral, sosial dan agama.
Contoh pendekatan Edukatif adalah Ketika lonceng berbunyi tanda masuk kelas, anak – anak jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi suruhlah mereka berbaris di depan pintu masuk dan perintahkanlah ketua kelas untuk mengatur barisan,  dsb.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar